Banyak sekali kita temukan ayat-ayat suci Al Quran yang
menunjukkan adanya syafaat, seperti ayat di bawah ini,
هل ينظرون إلاّ
تأويله يوم يأتي تأويله يقول الذين نسوه من قبل قد جاءت رسل ربّنا بالحقّ فهل لنا
من شفعاء فيشفعوا لنا أو نردّ فنعمل غير الّذي كنّا نعمل قد خسروا أنفسهم وضلّ
عنهم ما كانوا يفترون
Artinya: Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali
(terlaksananya kebenaran) Al Quran itu. Pada hari datangnya kebenaran
pemberitaan Al Quran, berkatalah orang-orang yang sebelum itu telah
melupakannya, “Sesungguhnya telah datang utusan-utusan Tuhan kami dengan
membawa kebenaran. Adakah pemberi syafaat bagi kami atau dapatkah kami kembali
(ke dunia) sehingga kami dapat melakukan perbuatan yang lain dari apa yang
pernah kami perbuat?” Sesungguhnya mereka telah merugikan diri sendiri dan
lenyaplah tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan.
Ayat ini menceritakan tentang keadaan yang dialami oleh mereka
yang telah mendustakan Allah. Pada hari kiamat, mereka tidak mendapatkan
syafaat karena mereka adalah orang-orang telah merugikan diri sendiri. Artinya,
pada saat yang sama, ayat ini menjelaskan akan adanya syafaat yang tidak bakal
mereka terima.
Allah SWT
berfirman,
لا
يملكون الشّفاعة إلاّ من اتّخذ عند الرحمن عهدا
Artinya: Tidak ada orang yang mendapatkan syafaat
kecuali mereka yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah.[5]
Pada ayat lain,
Allah berfirman,
يومئذ لا تنفع
الشّفاعة إلاّ من أذن له الرّحمن ورضي له قولا
Artinya: Di hari itu, syafaat tidak akan berguna
kecuali bagi orang yang telah diberi izin oleh Allah dan diridhai perkataannya.
Simak pula ayat
berikut ini.
ولا يملك
الّذين يدعون من دونه الشّفاعة إلاّ من شهد بالحقّ وهم يعلمون
Artinya: Dan sesembahan yang mereka sembah tidak
dapat memberi syafaat. Akan tetapi (yang dapat memberi syafaat adalah) orang
yang menyaksikan kebenaran dan mereka yang mengetahuinya.[7]
Semua ayat di atas (dan masih banyak ayat lainnya) menunjukkan akan
adanya syafaat di hari kiamat nanti. Hanya saja, pemberi syafaat haruslah
memiliki beberapa kriteria seperti,
من اتّخذ عند
الرحمن عهدا
Mereka yang
telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah.
من أذن له
الرّحمن
Orang yang
telah diberi izin oleh Allah.
من شهد بالحقّ
وهم يعلمون
Orang yang
menyaksikan kebenaran dan mereka yang mengetahuinya.
Mereka yang memiliki tiga sifat tersebut adalah hamba-hamba Allah
yang berhasil mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi-Nya sehingga bisa
memberi syafaat kepada orang-orang yang mereka kehendaki, tentunya setelah
mendapat izin dari Allah SWT.
Untuk lebih jelasnya, kami anjurkan pembaca yang budiman untuk
menelaah ayat-ayat yang berkenaan dengan hal ini, yang nantinya juga akan kami
singgung pada pembasahan-pembahasan yang akan datang. Ayat-ayat tersebut
adalah:
Surat Al-Baqarah
ayat 48, 123, 254, dan 255, Surat Al-Nisa’ ayat 85, Surat Al-A’raf ayat 53,
Surat Al-Anbiya’ ayat 28, Surat Al-Syu’ara’ ayat 100, Surat Al-Muddatstsir ayat
48, Surat Al-An’am 5 ayat 1, 70, dan 94, Surat Yunus ayat 3 dan 18, Surat
Maryam ayat 87, Surat Thaha ayat 109, Surat Saba’ ayat 23, Surat Al-Zumar ayat
43 dan 44, Surat Al-Zukhruf ayat 86, Surat Yasin ayat 23, Surat Al-Najm ayat
26, Surat Al-Fajr ayat 3, Surat Ghafir ayat 18, dan Surat Al-Rum ayat 13
Dalam banyak
ayatnya, Al Quran Al-Karim dengan sangat jelas menyebut bahwa kaum musyrik
--mereka yang menyekutukan Allah-- tidak akan mendapat syafaat di hari kiamat.
Pada saat yang sama semua sesembahan mereka selain Allah tidak dapat memberikan
bantuan apapun kepada mereka. Allah SWT berfirman,
ويعبدون من دون الله مالا يضرّهم ولا
ينفعهم و يقولون هؤلاء شفعاؤنا عند الله قل أتنبئون الله بما لا يعلم في السّموات
ولا في الأرض سبحانه وتعالى عمّا يشركون
Artinya: Dan mereka menyembah selain Allah apa-apa
yang tidak dapat mendatangkan petaka bagi mereka dan tidak pula memberikan
manfaat, dan mereka berkata, “Mereka inilah yang akan memberi syafaat kepada
kami di sisi Allah.” Katakanlah, “Apakah kalian memberitahu Allah sesuatu yang
tidak dikenal oleh-Nya baik di langit maupun di bumi?” Mahasuci Allah dari
apa-apa yang mereka persekutukan.
ولم يكن لهم من شركائهم شفعاء وكانوا
بشركائهم كافرين ..
Artinya: Dan tidak ada di antara sesembahan itu yang
dapat memberi syafaat kepada mereka, dan mereka mengingkari persekutuan itu.
… وما نرى معكم شفاءكم الذين زعمتم
أنّهم فيكم شركاء لقد تقطّع بينكم وضلّ عنكم ما كنتم تزعمون
Artinya: …dan Kami tidak melihat adanya pemberi
syafaat bagi kalian dari sesembahan-sesembahan ini yang telah kalian jadikan
sebagai sekutu (Allah). Sungguh telah terputuslah (hubungan) di antara kalian
dan lenyaplah apa kalian dakwakan sebelum ini.
أم اتّخذوا من دون الله شفعاء قل أو
لو كانوا لا يملكون شيئا ولا يعقلون
Artinya: Bahkan mereka memilih pemberi syafaat selain
dari Allah. Katakanlah, “Apakah hal ini kalian lakukan padahal mereka tidak
memiliki apapun dan tidak berakal?”
ءأتخذ من دونه آلهة إن يردن الرّحمن
بضرّ لا تغن عنّي شفاعتهم شيئا ولا ينقذون
Artinya: Mengapa aku mesti memilih tuhan-tuhan lain
selain Dia. Jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghen-daki suatu petaka
bagiku, niscaya mereka tidak akan dapat memberiku syafaat dan mereka tidak
dapat menyelamatkanku.
Hadits tentang syafaat
4. Beliau SAWW
juga bersabda,
...
اشفعوا تشفّعوا و يقضي الله عزّ وجلّ
على لسان نبيّه ما شاء
Artinya: …Mintalah syafaat, niscaya kalian akan
mendapatkannya dan Allah SWT akan mengabulkan semua permintaan Nabi-Nya. [22]
5.
Anas bin Malik meriwayatkan, bahwa Nabi SAWW bersabda,
أنا أوّل شفيع في الجنّة ...
Artinya: Aku
adalah orang pertama yang memberi syafaat di surga…[23]
6.
Ka’ab Al-Ahbar membawakan hadis yang sama dengan riwayat Abu Hurairah bahwa
Rasulullah Muhammad SAWW bersabda,
لكلّ نبي دعوة يدعوها فأريد أن أختبئ
دعوتي شفاعة لأمّتي يوم القيامة
Artinya: Semua
nabi memiliki doa yang dikabulkan oleh Allah dan aku menyimpan doa ini sebagai
syafaat untuk umatku di hari kiamat.[24]
7.
Abu Nadhrah berkata, “Suatu hari Ibnu Abbas r.a. berkhotbah di mimbar masjid kota Bashrah. Ia berkata
bahwa Rasulullah SAWW pernah bersabda,
إنّه لم يكن نبي إلاّ له دعوة قد
تنجزها في الدّنيا وإنّي قد اختبأت دعوتي شفاعة لأمتي وأنا سيّد ولد آدم يوم
القيامة ولا فخر ... فيقال ارفع رأسك وقل تُسمع وسل تُعط واشفع تشفّع ، قال صلى
الله عليه وآله وسلّم :
فارفع رأسي فأقول أي ربي أمتي أمتي
فيقال لي أخرج من النّار من كان في قلبه كذا وكذا فأخرجهم
Artinya:
Semua nabi mempunyai sebuah doa mustajab di dunia. Namun aku menyimpannya untuk
hari kiamat kelak sebagai syafaat bagi umatku. Tanpa menyombongkan diri, aku
adalah penghulu seluruh anak cucu Adam…(di hari kiamat kelak) aku akan
mendengar suara yang mengatakan, “Angkatlah kepalamu. Katakan sesuatu pasti
kata-katamu akan didengar. Mintalah sesuatu, pasti permintaanmu akan terkabul
dan berilah syafaat niscaya syafaatmu akan diterima.” Lalu aku mengangkat
kepalaku seraya mengatakan, “Wahai Tuhanku, umatku-umatku.” Allah SWT menjawab,
“Keluarkanlah siapa saja yang memiliki sifat ini dan ini di hatinya.” Lantas
aku pun mengeluarkan mereka dari neraka.” [25]
8.
Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan bahwa Nabi SAWW bersabda,
أُعطيتُ خمسا لم يعطهنّ نبي قبلي ولا
أقولهن فخرا بعثت إلى الناس كافة الأحمر و الأسود ، و نُصرتُ بالرعب مسيرة شهر ،
وأحلت لي الغنائم ولم تحل لأحد قبلي ، وجعلت لي الأرض مسجدا وطهورا ، وأعطيت
الشفاعة فاخرتها لأمتي فهي لمن لا يشرك بالله شيئا
Artinya: Aku
telah diberi oleh Allah lima
perkara yang tidak pernah Dia berikan kepada seorang nabi pun selainku, dan
(ketahuilah) bahwa aku mengatakannya kepada kalian bukan karena rasa sombongku.
(1) Aku diutus kepada seluruh umat manusia, baik mereka yang berkulit merah
maupun yang berkulit hitam. (2) Aku telah diberi kemenangan atas musuh-musuhku
dengan perasaan takut yang menghantui mereka terhadapku, dari jarak perjalanan
satu bulan. (3) Harta ghanimah (rampasan perang) halal bagiku, padahal
sebelumnya tidak. (4) Seluruh permukaan bumi adalah masjid (tempat bersujud)
dan suci dalam syariat yang kubawa ini. (5) Aku juga dianugerahi oleh Allah hak
memberi syafaat yang aku simpan untuk umatku di hari kiamat dan akan kuberikan
kepada siapa saja yang tidak menyekutukan Allah dengan selain-Nya.[26]
9.
Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAWW bersabda,
إذا سمعتم مؤذنا فقولوا مثل ما يقول
ثمّ صلّوا عليّ فإنّه من صلّى عليّ صلّى الله عليه بها عشرا ثمّ سلوا لي الوسيلة
فإنّها منزلة في الجنة لا تنبغي إلاّ لعبد من عباد الله , و أرجو أن أكون أنا هو ,
فمن سأله لي الوسيلة حلّت عليه الشفاعة
Artinya: Jika
kalian mendengar seorang muazin mengumandangkan azan maka tirukanlah setiap
kata yang ia ucapkan. Lalu bacalah shalawat kepadaku. Karena jika seseorang
membaca shalawat kepadaku maka Allah akan memberikan rahmat kepadanya sepuluh
kali karena shalawatnya tersebut. Kemudian, mintalah wasilah untukku,
karena wasilah itu adalah sebuah kedudukan yang tinggi di surga yang
hanya berhak didapatkan oleh seorang hamba Allah yang sebenarnya, dan aku
berharap semoga aku dijadikan sebagai hamba Allah yang sebenarnya itu.
(Ketahuilah) jika seseorang memohonkan washilah untukku, ia pasti
akan mendapatkan syafaatku. [27]
10.
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi SAWW saat menafsirkan ayat, عسى أن يبعثك ربك
مقاما محمودا
bersabda,
الشفاعة
Artinya: (Maksudnya
adalah) syafaat.[28]
11.
Rasulullah SAWW bersabda,
رأيت ما تلقى أمتي بعدي ... فسألت أن
يوليني شفاعة يوم القيامة فيهم ففعل
Artinya: Aku
telah mengetahui apa yang kelak akan dilakukan oleh umatku…Karena itulah aku
memohon kepada-Nya untuk memberiku hak memberi syafaat kepada mereka, dan Dia
mengabulkannya.[29]
12.
Dalam hadis yang lain beliau SAWW bersabda,
ليخرجنّ قوم من أمتي من النار
بشفاعتي يسمّون الجهنميين
Artinya: Kelak
di hari kiamat akan ada sekelompok orang dari umatku yang keluar dari siksa api
neraka berkat syafaatku, mereka inilah yang disebut dengan Jahanna-miyyun
(orang-orang dari neraka jahannam). [30]
13.
Rasulullah SAWW bersabda,
شفاعتي نائلة إنشاء الله من مات ولا
يشرك بالله شيئا
Artinya: Syafaatku,
insya Allah, akan didapatkan oleh siapa saja yang mati tanpa menyekutukan Allah
dengan selain-Nya. [31]
14.
Diriwayatkan bahwa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. berkata,
لنا شفاعة ولأهل مودتنا شفاعة
Artinya: Kami
memiliki syafaat yang akan diberikan kepada mereka yang mencintai kami.[32]
15.
Imam Ali Zainal Abidin a.s. dalam doa beliau mengatakan,
اللهمّ صلّ على محمد وآل محمد و شرّف
بنيانه و عظّم برهانه , وثقّل ميزانه و تقبل شفاعته
Artinya: Ya
Allah, limpahkalah shalawat atas Muhammad dan keluarganya. Muliakanlah
kedudukan-nya, kuat-kanlah agamanya, beratkanlah neraca amalnya dan terimalah
syafaatnya. [33]
16.
Rasulullah SAWW bersabda,
يا بني عبد المطلب إنّ الصدقة لا
تحلّ لي ولا لكم , ولكني وعدت الشفاعة
Artinya: Wahai
Bani Abdul Muththalib, sedekah haram bagiku dan bagi kalian semua, dan (sebagai
gantinya) aku menjanjikan syafaat (untuk kalian).[34]
17.
Imam Zainal Abidin a.s. dalam doanya berkata,
... وتعطف عليّ بجودك وكرمك , وأصلح منّي ما
كان فاسدا , وتقبل مني ما كان صالحا , وشفّع فيّ محمدا وآل محمد , واستجب دعائي
وارحم تضرّعي وشكواي ...
Artinya: (Ya
Allah) perlakukanlah aku dengan kemurahan dan kebaikan-Mu. Luruskanlah semua
hal buruk yang ada pada diriku dan terimalah amal kebaikan yang kulakukan.
Jadikanlah Muhammad dan keluarganya sebagai para pemberi syafaatku (di hari
akhir). Kabulkan doaku dan kasihanilah kerendahan dan pengaduanku ini…[35]
18.
Abu Abdillah Imam Ja’far Shadiq a.s. berkata,
المؤمن مؤمنان : مؤمن وفى لله بشروطه
التي شرطها عليه , فذلك مع النبيـين و الصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك
رفيقا وذلك من يشفع ولا يشفع لـه وذلك ممن لا تصيبه أهوال الدنيا ولا أهوال الآخرة
, ومؤمن زلت به قدم فذلك كخامة الزرع كيفما كفئته الريح انكفأ و ذلك ممن تصيبه
أهوال الدنيا و الآخرة و يشفع له و هو على خير
Artinya: Mukmin
ada dua macam. Pertama adalah orang mukmin yang telah menepati semua janji suci
keimanannya dengan Allah. Orang yang demikian ini akan bersama para nabi,
shiddiqin, syuhada’ dan orang-orang saleh; sungguh kebersamaan yang
terbaik. Ia kelak akan dapat mensyafaati dan tidak lagi memerlukan syafaat
orang lain. Di hari kiamat, ia akan terbebas dari segala kekalutan yang ada
saat itu. Sedang mukmin jenis kedua adalah orang mukmin yang tergoda hawa
nafsunya sehingga melakukan kesalahan dan dosa. Ia laksana sebatang ranting
patah yang dipermainkan oleh tiupan angin. Di hari kiamat ia tidak akan lepas
dari ketakutan yang menimpa penghuni mahsyar, namun ia akan mendapat syafaat
yang membawanya kepada kebaikan.[36]
19.
Rasulullah SAWW bersabda,
إنّ ربكم تطوّل عليكم في هذا اليوم فغفر
لمحسنكم و شفّع محسنكم في مسيئكم فأفيضوا مغفورا لكم
Artinya: Sesungguhnya
pada hari ini Tuhan melihat kepada kalian dengan pandangan rahmat-Nya. Dia
telah mengampuni mereka yang melakukan kebajikan dari kalian dan menjadikannya
sebagai pemberi syafaat bagi siapa saja yang telah melakukan dosa di antara
kalian. Kini, pergilah dalam keadaan dosa kalian telah diampuni oleh-Nya.
Dalam sebagian
riwayat disebutkan tambahan ini,
إلاّ أهل التبعات فإن الله عدل يأخذ
للضعيف من القوي
Artinya: ...kecuali
mereka yang berbuat zalim, karena Allah akan mengambil hak bagi orang lemah
dari yang kuat.
Ketika malam
tiba, sekelompok orang tengah asyik bermunajat dengan Tuhan mereka dan
memohonkan ampunan bagi para pendosa. Pada saat Nabi SAWW sampai di antara
mereka, beliau bersabda kepada Bilal, “Wahai Bilal perintahkan semuanya
untuk diam sejenak!”. Setelah semuanya diam, beliau bersabda,
إنّ ربكم تطوّل عليكم في هذا اليوم
فغفر لمحسنكم و شفّع محسنكم في مسيئكم فأفيضوا مغفورا لكم
Artinya: Sesungguhnya
pada hari ini Tuhan melihat kepada kalian dengan pandangan rahmat-Nya. Dia
telah mengampuni mereka yang melakukan kebajikan dari kalian dan menjadikannya
sebagai pemberi syafaat bagi siapa saja yang telah melakukan dosa di antara
kalian. Kini, pergilah dalam keadaan dosa kalian telah diampuni oleh-Nya.
Dan beliau SAWW memberikan jaminan keridhaannya untuk para pelaku maksiat.[37]
20.
Imam Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. ketika menjelaskan keutamaan Al
Quran berkata,
إنه ما توجّه العباد إلى الله تعالى
بمثله , واعلموا أنه شافع مشفّع وقائل مصدّق , و أنه من شفع له القرآن يوم القيامة
شفّع فيه
Artinya: Tidak
ada sesuatu pun yang dapat mengalihkan perhatian seorang hamba kepada Allah SWT
lebih dari Al Quran. Ketahuilah bahwa ia adalah pemberi syafaat dan pembicara
yang benar. Jika seseorang diberi syafaat oleh Al Quran, maka Allah SWT pasti
menerima syafaat tersebut.[38]
Syafaat Menurut Ulama Islam
Hampir seluruh ulama Islam bersepakat bahwa syafaat memang ada di
hari kiamat dan akan diberikan kepada kaum mukminin. Hanya saja, sebagian dari
mereka berselisih pendapat mengenai seberapa luas makna syafaat ini. Mayoritas
ulama dari berbagai mazhab dan aliran dalam Islam berpendapat bahwa syafaat
akan berguna untuk menghindarkan seseorang dari bahaya dan siksa neraka.
Apa yang telah
kami sebutkan di atas adalah pernyataan beberapa ulama terkenal dari kalangan
Syi’ah Imamiyyah mengenai syafaat. Berikut ini kami nukilkan pernyataan dari
beberapa ulama besar mazhab-mazhab Islam lainnya.
1. Abu Mansur
Al-Maturidi Al-Samarqandi (wafat tahun 333 H) saat menafsirkan ayat ولا يقبل
منها شفاعة “Syafaat mereka tidak akan diterima”[46] dan ayat ولا يشفعون إلاّ لمن ارتضى
“Mereka tidak akan bisa memberikan syafaat kecuali kepada orang yang
telah diridhai” [47] mengatakan,
“Ayat
pertama meskipun menafikan syafaat, akan tetapi kita meyakini adanya syafaat
yang diterima dalam Islam yaitu syafaat yang dimaksudkan oleh ayat ini.” [48] (Yang beliau maksudkan dengan ayat ini adalah ayat ke-28 dari surat Al-Anbiya’.)
2. Abu Hafsh
Al-Nasafi (wafat tahun 538 H) dalam kitabnya yang dikenal dengan Al-‘Aqaid
Al-Nasafiyyah mengatakan,
“Syafaat adalah
fakta yang tidak dapat diragukan lagi dan merupakan hak yang dimiliki oleh para
rasul dan orang-orang saleh sesuai dengan apa yang disebutkan dalam banyak
hadis.” [49]
3. Nashiruddin
Ahmad bin Muhammad bin Al-Munir Al-Iskandari Al-Maliki dalam kitab Al-Intishaf
menulis,
“Mereka
yang mengingkari syafaat sangat layak untuk tidak menerimanya di hari kiamat
nanti. Sedangkan yang percaya dan meyakininya, yaitu kelompok Ahlus-Sunnah wal
Jama’ah, mereka adalah orang-orang yang selalu berharap akan rahmat Allah.
Mereka percaya bahwa syafaat bisa diberikan kepada orang-orang mukmin yang
telah melakukan dosa, dan syafaat ini adalah hak Nabi Muhammad SAWW yang
disimpan untuk mereka…” [50]
4. Qadhi ‘Iyadh
bin Musa (wafat tahun 544 H) mengatakan,
“Ahlus-Sunnah
berpendapat bahwa masalah syafaat secara akal bisa diterima dan kebenarannya
didukung oleh banyak ayat dan riwayat. Banyak sekali hadis, yang jumlahnya
telah sampai ke batas hadis mutawatir, menyebutkan bahwa syafaat bakal diterima
oleh kaum mukminin yang berlumuran dosa. Salaf Shalih (mereka yang hidup di
awal Islam) dan ulama-ulama Ahlus Sunnah setelah mereka bersepakat akan
kebenaran hal ini….”[51]
Masih banyak
lagi ulama-ulama Islam dari kalangan Ahlus-Sunnah dan Syi’ah yang menekankan
akan kebenaran syafaat di hari kiamat, yang tentunya tidak dapat kami nukilkan
semuanya di sini.
Dengan melihat
ayat-ayat Al Quran Al-Karim, hadis-hadis Nabi Muhammad SAWW dan para Imam Ahlul
Bait a.s., juga pernyataan-pernyataan para ulama di atas, dapat kita simpulkan
bahwa masalah syafaat termasuk dari serangkaian permasalahan yang telah
diterima dan diyakini oleh mayoritas kaum muslimin dari berbagai mazhab yang
berbeda. Meski demikian, tidak dapat kita pungkiri adanya perselisihan di
kalangan para ulama mengenai makna syafaat.
Berbeda dengan
pendapat para ulama di atas, kelompok Mu’tazilah menolak konsep syafaat. Abul
Hasan Al-Khayyath, salah seorang tokoh kelompok ini, saat menafsirkan ayat
berikut ini,
أفمن حقّ عليه كلمة العذاب أفأنت
تنقذ من في النار ...
Artinya: Apakah
(engkau hendak merubah nasib) orang yang telah pasti akan disiksa? Apakah
engkau akan menyelamatkan orang yang berada di dalam neraka?[52]
mengatakan,
“Ayat ini
dengan jelas menyatakan bahwa Rasulullah SAWW tidak mungkin dapat menyelamatkan
orang yang sudah pasti masuk ke dalam api neraka….”
Syeikh Mufid
dalam menjawab pernyataan tersebut mengatakan,
“Semua
orang yang menerima konsep syafaat tidak pernah mengklaim bahwa Rasulullah SAWW
dapat menyelamatkan orang yang berada di neraka. Mereka hanya mengatakan bahwa
Allahlah yang menyelamatkan orang tersebut dari siksaan-Nya sebagai
penghormatan atas Nabi SAWW dan keluarganya yang suci (yang memberinya
syafaat). Di sisi lain, para mufassir (ahli tafsir Al Quran) berpendapat bahwa
yang dimaksud oleh ayat ini dengan “mereka yang pasti masuk neraka” adalah kaum
kafir, dan dalam pembahasan-pembahasan yang lalu telah dijelaskan bahwa Nabi
SAWW tidak akan memberikan syafaatnya kepada mereka.” [53]

0 comentários: