Monday, 11 April 2016

Puisi : Teruntukmu Serasa Jauh Disana


Serasa perjalananku sudah hampir di pulau tujuan
Sesaat raga lelah letih membawaku berjalan
Sesaat teringat aku akan dirimu diwaktu kecilmu
Ku gendong kesana kemari
Aku suapi makanmu jika engkau ingin makan
Aku mandikan disaat waktunya engkau mandi
Dan aku terbangun disaat engkau menangis di kala malam larut itu
Bahkan mataku tidak mampu tidur dikala engkau sakit.

Anakku, memang pernah terlontar dariku dan ayahmu untuk meminta uang padamu
Seakan begitu nikmat pemberian darimu
Karena sewaktu kecilpun engkau begitu pula padaku
Tapi anakku, Bukan sebongkah berlian ataupun emas yang ku nantikan
darimu dari tanah seberang
Juga bukan rumah yang megah yang kau bangunkan
Akan tetapi hadirmu semua yang mampu melipur laraku di ujung penantian ini
Aku sadar engkaupun tak selalu sama peruntungan di pulau seberang
Tapi pulangmu sangat ku dambakan.

Anakku, rambutku sudah hampir memutih semua
Sampai detik ini, aku tak pernah berhenti menanti engkau berada di sisi
Tahukah engkau dengan kisah seorang anak disaat ia menghadapi sakaratul maut?
Terganjal karena sewaktu ia sehat tak mau mengunjungi ibunya di waktu sakit.
Sampai Rasulpun menyuruh sahabat agar dapat membakarnya dengan kayu api

Anakku, bukan seperti kisah ini yang ingin ku lakukan padamu
Karena bagiku, maaf dan cinta itulah yang utama untukmu
Secarik surat ini, aku sampaikan padamu dariku, ibumu

Duhai anakku, jangan sampai di saat matahari senja berganti dengan
 kegelapan malam engkau baru mengunjungiku
karena apabila engkau datang di hari itu, tiada artinya bagiku

tidakkah  sesekali engkau membayangkan aku dan ayahmu di sini, di tanah kelahiranmu?
Sedang apa dan dalam keadaan apa?
Nak, terkadang ayahmu terpaku membisu duduk di kursinya
menatap langit dengan pandangan kosong
Dan terkadang, bermenung sendiri sesaat membersihkan rerumputan paraknya.
Tahukah engkau kenapa?
Hmm… iya.. tak lebih dan tak kurang hanya ingin hadirmu
menemani sesaat disisa umurnya

aku sadar, engkau disibukkan oleh kerja, anak dan istrimu
tapi tahukah engkau anakku, sesibuk apapun pekerjaanmu sepenting apapun anak harta dan istrimu, 
engkau tetap anakku. Anak lelakiku
dan wajib bagimu mengabdi kepadaku bahkan
hingga aku telah tiada pun engkau mesti tetap mengabdi kepadaku

pulanglah.. di sini aku hanya mengharapmu.
Bukan mengharap apapun darimu
Cukup hadirmu menjagaku, merawatku
Bagaikan obat penawar dari segala penyakit yang ku rasa
Penawar kenyang saat ku lapar
Penawar senyum saat air mata yang sudah mulai mengering.



Latest
Next Post

0 comentários: