Serasa perjalananku sudah hampir di pulau tujuan
Sesaat raga lelah letih membawaku berjalan
Sesaat teringat aku akan dirimu diwaktu kecilmu
Ku gendong kesana kemari
Aku suapi makanmu jika engkau ingin makan
Aku mandikan disaat waktunya engkau mandi
Dan aku terbangun disaat engkau menangis di kala
malam larut itu
Bahkan mataku tidak mampu tidur dikala engkau sakit.
Anakku, memang pernah terlontar dariku dan ayahmu
untuk meminta uang padamu
Seakan begitu nikmat pemberian darimu
Karena sewaktu kecilpun engkau begitu pula padaku
Tapi anakku, Bukan sebongkah berlian ataupun emas
yang ku nantikan
darimu dari tanah seberang
Juga bukan rumah yang megah yang kau bangunkan
Akan tetapi hadirmu semua yang mampu melipur laraku
di ujung penantian ini
Aku sadar engkaupun tak selalu sama peruntungan di
pulau seberang
Tapi pulangmu sangat ku dambakan.
Anakku, rambutku sudah hampir memutih semua
Sampai detik ini, aku tak pernah berhenti menanti
engkau berada di sisi
Tahukah engkau dengan kisah seorang anak disaat ia
menghadapi sakaratul maut?
Terganjal karena sewaktu ia sehat tak mau
mengunjungi ibunya di waktu sakit.
Sampai Rasulpun menyuruh sahabat agar dapat
membakarnya dengan kayu api
Anakku, bukan seperti kisah ini yang ingin ku
lakukan padamu
Karena bagiku, maaf dan cinta itulah yang utama
untukmu
Secarik surat ini, aku sampaikan padamu dariku,
ibumu
Duhai anakku, jangan sampai di saat matahari senja
berganti dengan
kegelapan
malam engkau baru mengunjungiku
karena apabila engkau datang di hari itu, tiada
artinya bagiku
tidakkah
sesekali engkau membayangkan aku dan ayahmu di sini, di tanah
kelahiranmu?
Sedang apa dan dalam keadaan apa?
Nak, terkadang ayahmu terpaku membisu duduk di
kursinya
menatap langit dengan pandangan kosong
Dan terkadang, bermenung sendiri sesaat membersihkan
rerumputan paraknya.
Tahukah engkau kenapa?
Hmm… iya.. tak lebih dan tak kurang hanya ingin
hadirmu
menemani sesaat disisa umurnya
aku sadar, engkau disibukkan oleh kerja, anak dan
istrimu
tapi tahukah engkau anakku, sesibuk apapun
pekerjaanmu sepenting apapun anak harta dan istrimu,
engkau tetap anakku. Anak lelakiku
engkau tetap anakku. Anak lelakiku
dan wajib bagimu mengabdi kepadaku bahkan
hingga aku telah tiada pun engkau mesti tetap
mengabdi kepadaku
pulanglah.. di sini aku hanya mengharapmu.
Bukan mengharap apapun darimu
Cukup hadirmu menjagaku, merawatku
Bagaikan obat penawar dari segala penyakit yang ku
rasa
Penawar kenyang saat ku lapar
Penawar senyum saat air mata yang sudah mulai
mengering.

0 comentários: