Monday, 11 April 2016

Puisi : Teruntukmu Serasa Jauh Disana


Serasa perjalananku sudah hampir di pulau tujuan
Sesaat raga lelah letih membawaku berjalan
Sesaat teringat aku akan dirimu diwaktu kecilmu
Ku gendong kesana kemari
Aku suapi makanmu jika engkau ingin makan
Aku mandikan disaat waktunya engkau mandi
Dan aku terbangun disaat engkau menangis di kala malam larut itu
Bahkan mataku tidak mampu tidur dikala engkau sakit.

Anakku, memang pernah terlontar dariku dan ayahmu untuk meminta uang padamu
Seakan begitu nikmat pemberian darimu
Karena sewaktu kecilpun engkau begitu pula padaku
Tapi anakku, Bukan sebongkah berlian ataupun emas yang ku nantikan
darimu dari tanah seberang
Juga bukan rumah yang megah yang kau bangunkan
Akan tetapi hadirmu semua yang mampu melipur laraku di ujung penantian ini
Aku sadar engkaupun tak selalu sama peruntungan di pulau seberang
Tapi pulangmu sangat ku dambakan.

Anakku, rambutku sudah hampir memutih semua
Sampai detik ini, aku tak pernah berhenti menanti engkau berada di sisi
Tahukah engkau dengan kisah seorang anak disaat ia menghadapi sakaratul maut?
Terganjal karena sewaktu ia sehat tak mau mengunjungi ibunya di waktu sakit.
Sampai Rasulpun menyuruh sahabat agar dapat membakarnya dengan kayu api

Anakku, bukan seperti kisah ini yang ingin ku lakukan padamu
Karena bagiku, maaf dan cinta itulah yang utama untukmu
Secarik surat ini, aku sampaikan padamu dariku, ibumu

Duhai anakku, jangan sampai di saat matahari senja berganti dengan
 kegelapan malam engkau baru mengunjungiku
karena apabila engkau datang di hari itu, tiada artinya bagiku

tidakkah  sesekali engkau membayangkan aku dan ayahmu di sini, di tanah kelahiranmu?
Sedang apa dan dalam keadaan apa?
Nak, terkadang ayahmu terpaku membisu duduk di kursinya
menatap langit dengan pandangan kosong
Dan terkadang, bermenung sendiri sesaat membersihkan rerumputan paraknya.
Tahukah engkau kenapa?
Hmm… iya.. tak lebih dan tak kurang hanya ingin hadirmu
menemani sesaat disisa umurnya

aku sadar, engkau disibukkan oleh kerja, anak dan istrimu
tapi tahukah engkau anakku, sesibuk apapun pekerjaanmu sepenting apapun anak harta dan istrimu, 
engkau tetap anakku. Anak lelakiku
dan wajib bagimu mengabdi kepadaku bahkan
hingga aku telah tiada pun engkau mesti tetap mengabdi kepadaku

pulanglah.. di sini aku hanya mengharapmu.
Bukan mengharap apapun darimu
Cukup hadirmu menjagaku, merawatku
Bagaikan obat penawar dari segala penyakit yang ku rasa
Penawar kenyang saat ku lapar
Penawar senyum saat air mata yang sudah mulai mengering.



Sunday, 15 December 2013

Sistim Kekerabatan Minangkabau

Sistim Kekerabatan Orang Minangkabau dan Adat Orang Minang

Pada zaman ini banyak putra –putri minang yang tidak mengetahui tentang sistem kekerabatan serta peran dan kedudukan mereka dalam kaum. Hal ini tentu sangat menyedihkan mengingat mereka adalah generasi penerus yang diharapkan dapat mengangkat dan mengharumkan nama minang.Tapi bagaimana hal itu dapat terjadi jika mereka sendiri kurang mengetahui tentang sistem kekerabatan yang berlaku di nagari mereka sendiri. Hal ini dapat disebabkan oleh banyak faktor salah satunya yaitu minimnya pengetahuan yang mereka dapatkan tentang sistem kekerabatan yang ada di Minang .Untuk itulah makalah ini hadir sebagai salah satu sumber informasi bagi para generasi muda minang khususnya, yang kurang mengetahui mengenai seluk beluk sistem kekerabatan yang ada di Minangkabau.

Rumusan Masalah

1.Apa sistem kekerabatan yang berlaku di Minangkabau?
2.Apa yang dimaksud dengan sistem kekerabatan matrilineal?
3.Apa ciri-ciri sistem kekerabatan matrilineal?
4.Bagaimana peran dan kedudukan wanita di minang menurut sistem kekerabatan matrilimeal?
5.Bagaimana peran dan tanggung jawab laki-laki di minang?

Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ian adalah:
1.Untuk mengetahui sistem kekerabatan yang berlaku di Minangkabau
2.Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan sistem kekerabatan matrilineal
3.Untuk mengetahui ciri-ciri sistem kekerabatan matrilineal
4.Untuk mengetahui .bagaimana peran dan kedudukan wanita di minang menurut sistem kekerabatan matrilimeal.
5.Untuk mengetahui bagaimana peran dan tanggung jawab laki-laki di minang

BAB II ISI

Sistem Kekerabatan Yang Berlaku di Minangkabau

Masyarakat minangkabau menganut sistem kekerabatan matrilineal. Sistem matrilineal adalah suatu sistem yang mengatur kehidupan dan ketertiban suatu masyarakat yang terikat dalam suatu jalinan kekerabatan dalam garis ibu. Seorang anak laki-laki atau perempuan merupakan klen dari perkauman ibu.Ayah tidak dapat memasukkan anaknya ke dalam sukunya sebagaimana yang berlaku dalam sistem patrilineal.Dengan kata lain seorang anak di minangkabau akan mengikuti suku ibunya.

Segala sesuatunya diatur menurut garis keturunan ibu.Tidak ada sanksi hukum yang jelas mengenai keberadaan sistem matrilineal ini, artinya tidak ada sanksi hukum yang mengikat bila seseorang melakukan pelanggaran terhadap sistem ini. Sistem ini hanya diajarkan secara turun temurun kemudian disepakati dan dipatuhi, tidak ada buku rujukan atau kitab undang-undangnya. Namun demikian, sejauh manapun sebuah penafsiran dilakukan atasnya, pada hakekatnya tetap dan tidak beranjak dari fungsi dan peranan perempuan itu sendiri.

Ciri-ciri Sistem Kekerabatan Matrilineal

Adapun karakteristik dari sistem kekerabatan matrilineal adalah sebagai berikut:
1.Keturunan dihitung menurut garis ibu.
2. Suku terbentuk menurut garis ibu
Seorang laki-laki di minangkabau tidak bisa mewariskan sukunya kepada anaknya.Jadi jika tidak ada anak perempuan dalam satu suku maka dapat dikatakan bahwa suku itu telah punah.
3. Tiap orang diharuskan kawin dengan orang luar sukunya (exogami)
Menurut aturan adat minangkabau seseorang tidak dapat menikah dengan seseorang yang berasal dari suku yang sama . Apabila hal itu terjadi maka ia dapat dikenakan hukum ada, seperti dikucilkan dalam pergaulan.
4. Yang sebenarnya berkuasa adalah saudara laki-laki
Yang menjalankan kekuasaan di minangkabau adalah laki-laki ,perempuan di minangkabau di posisikan sebagai pengikat ,pemelihara ,dan penyimpan harta pusaka.
5. Perkawinan bersifat matrilokal, yaitu suami mengunjungi rumah istrinya
6. Hak-hak dan pusaka diwariskan oleh mamak kepada kemenakannya dan dari saudara laki-laki ibu kepada anak dari saudara perempuan.

Peran dan Kedudukan Wanita di Minangkabau

Pada dasarnya sistem matrilineal bukanlah untuk mengangkat atau memperkuat peranan perempuan, tetapi sistem itu dikukuhkan untuk menjaga, melindungi harta pusaka suatu kaum dari kepunahan, baik rumah gadang, tanah pusaka dan sawah ladang.

Dalam sistem matrilineal perempuan diposisikan sebagai pengikat, pemelihara dan penyimpan, sebagaimana diungkapkan pepatah adatnya amban puruak atau tempat penyimpanan. Itulah sebabnya dalam penentuan peraturan dan perundang-undangan adat, perempuan tidak diikut sertakan. Perempuan menerima bersih tentang hak dan kewajiban di dalam adat yang telah diputuskan sebelumnya oleh pihak ninik mamak.

Perempuan menerima hak dan kewajibannya tanpa harus melalui sebuah prosedur apalagi bantahan.
Hal ini disebabkan hak dan kewajiban perempuan itu begitu dapat menjamin keselamatan hidup mereka dalam kondisi bagaimanapun juga. Semua harta pusaka menjadi milik perempuan, sedangkan laki-laki diberi hak untuk mengatur dan mempertahankannya.
Perempuan tidak perlu berperan aktif seperti ninik mamak. Perempuan minangkabau yang memahami konstelasi seperti ini tidak memerlukan lagi atau menuntut lagi suatu prosedur lain atas hak-haknya. Mereka tidak memerlukan emansipasi lagi, mereka tidak perlu dengan perjuangan gender, karena sistem matrilineal telah menyediakan apa yang sesungguhnya diperlukan perempuan.

Peran dan Kedudukan Laki-laki di Minangkabau

Kedudukan laki-laki dan perempuan di dalam adat Minangkabau berada dalam posisi seimbang. Laki-laki punya hak untuk mengatur segala yang ada di dalam perkauman, baik pengaturan pemakaian maupun pembagian harta pusaka. Perempuan sebagai pemilik dapat mempergunakan semua hasil itu untuk keperluannya anak beranak.
Peranan laki-laki di dalam dan di luar kaumnya menjadi sesuatu yang harus dijalankannya dengan seimbang dan sejalan. Adapun peranan laki-laki di minangkabau terbagi atas:

Sebagai Kemenakan

Di dalam kumnya seorang laki-laki berawal sebagai kemenakan. Sebagai kemenakan dia harus mematuhi segala aturan yang ada di dalam kaum. Belajar untuk mengetahui semua aset kaumnya dan semua anggota keluarga kaumnya.
Oleh karena itu, ketika seseorang berstatus menjadi kemenakan, dia selalu disuruh ke sana ke mari untuk mengetahui segala hal tentang adat dan perkaumannya.
Dalam kaitan ini, peranan surau menjadi penting, karena surau adalah sarana tempat mempelajari semua hal itu baik dari mamaknya sendiri maupun dari orang lain yang berada di surau tersebut. Dalam menentukan status kemenakan sebagai pewaris sako dan pusako, anak kemenakan dikelompokan menjadi tiga kelompok:
a. Kemenakan di bawah daguak
Kemenakan di bawah daguak adalah penerima langsung waris sako dan pusako dari mamaknya
b. Kemenakan di bawah pusek
Kemenakan di bawah pusek adalah penerima waris apabila kemenakan di bawah daguak tidak ada (punah).
c. Kemenakan di bawah lutuik
Kemenakan di bawah lutuik, umumnya tidak diikutkan dalam pewarisan sako dan pusako kaum.

Sebagai Mamak

Pada giliran berikutnya, setelah dia dewasa, dia akan menjadi mamak dan bertanggung jawab kepada kemenakannya. Mau tidak mau, suka tidak suka, tugas itu harus dijalaninya. Dia bekerja di sawah kaumnya untuk saudara perempuannya anak-beranak yang sekaligus itulah pula kemenakannya. Dia mulai ikut mengatur, walau tanggung jawab sepenuhnya berada di tangan mamaknya yang lebih tinggi, yaitu penghulu kaum

Sebagai Penghulu

Selanjutnya, dia akan memegang kendali kaumnya sebagai penghulu. Gelar kebesaran diberikan kepadanya, dengan sebutan datuk. Seorang penghulu berkewajiban menjaga keutuhan kaum, mengatur pemakaian harta pusaka. Dia juga bertindak terhadap hal-hal yang berada di luar kaumnya untuk kepentingan kaumnya.
Setiap laki-laki terhadap kaumnya selalu diajarkan; kalau tidak dapat menambah (maksudnya harta pusaka kaum), jangan mengurangi (maksudnya, menjual,menggadai atau menjadikan milik sendiri). Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa peranan seorang laki-laki di dalam kaum disimpulkan dalam ajaran adatnya:

Tagak badunsanak mamaga dunsanak
Tagak basuku mamaga suku
Tagak ba kampuang mamaga kampuang
Tagak ba nagari mamaga nagari

Peranan Laki-laki di Luar Kaum

Selain berperan di dalam kaum sebagai kemanakan, mamak atau penghulu, seorang anak lelaki setelah dia kawin dan berumah tangga, dia mempunyai peranan lain sebagai tamu atau pendatang di dalam kaum isterinya. Artinya di sini, dia sebagai duta pihak kaumnya di dalam kaum istrinya, dan istri sebagai duta kaumnya pula di dalam kaum suaminya.Satu sama lain harus menjaga kesimbangan dalam berbagai hal, termasuk perlakuan-perlakuan terhadap anggota kaum kedua belah pihak. Di dalam kaum istrinya, seorang laki-laki adalah sumando (semenda). Sumando ini di dalam masyarakat Minangkabau dibuatkan pula beberapa kategori;

a. Sumando ninik mamak

Artinya, semenda yang dapat ikut memberikan ketenteraman pada kedua kaum; kaum istrinya dan kaumnya sendiri. Mencarikan jalan keluar terhadap sesuatu persoalan dengan sebijaksana mungkin. Dia lebih berperan sebagai seorang yang arif dan bijaksana.Sikap ini yang sangat dituntut pada peran setiap sumando di minangkabau

b. Sumando kacang miang

Artinya, sumando yang membuat kaum istrinya menjadi gelisah karena dia memunculkan atau mempertajam persoalan-persoalan yang seharusnya tidak dimunculkan.Sikap seperti ini tidak boleh dipakai.

c. Sumando lapik buruk

Artinya, sumando yang hanya memikirkan anak istrinya semata tanpa peduli dengan persoalan-persoalan lainnya.
Dikatakan juga sumando seperti seperti itu sumando apak paja, yang hanya berfungsi sebagai tampang atau bibit semata. Sikap seperti ini juga tidak boleh dipakai dan harus dijauhi.Sumando tidak punya kekuasan apapun di rumah istrinya, sebagaimana yang selalu diungkapkan dalam pepatah petitih:

Sadalam-dalam payo
Hinggo dado itiak
Sakuaso-kuaso urang sumando
Hinggo pintu biliak
Sebaliknya, peranan sumando yang baik dikatakan;
Rancak rumah dek sumando
Elok hukum dek mamaknyo

BAB III PENUTUP

Kesimpulan

Minangkabau menganut sistem kekerabatan matrilineal dimana wanita mempunyai peran penting sebagai pengikat, pemelihara,dan penyimpan harta pusaka.Sedangkan laki-laki mempunyai peranan penting untuk mengatur dan mempertahankan harta pusaka.
Kedudukan laki-laki dan perempuan di dalam adat Minangkabau berada dalam posisi seimbang. Laki-laki punya hak untuk mengatur segala yang ada di dalam perkauman, baik pengaturan pemakaian, pembagian harta pusaka, perempuan sebagai pemilik dapat mempergunakan semua hasil itu untuk keperluannya .

Terimakasih atas kunjungannya pada sistim kekerabatan orang minangkabau

Tuesday, 5 November 2013

Hasil Anak Inseminasi dan Bayi Tabung



A. Pengertian
Inseminasi bauatan merupakan terjemahan dari artificial insemination. Artificial artinya buatan ataua tiruan, sedangkan insemination berasal dari kata latin. Inseminatus artinya pemasukan atau penyampaian. artificial insemination adalah penghamilan atau pembuahan buatan. Dalam kamus تلقيح الصناعى, seperti dalam kitab al-fatawa karangan mahmud syaltut.
Jadi, insiminasi buatan adalah penghamilan buatan yang dilakukan terhadap wanita dengan cara memasukan sperma laki-laki ke dalam rahim wanita tersebut dengan pertolongan dokter, istilah lain yang semakna adalah kawin suntik, penghamilan buatan dan permainan buatan (PB). Yang dimaksud dengan bati taqbung (Test tubebaby) adalah bayi yang di dapatkan melalui proses pembuahan yang dilakukan di luar rahim sehingga terjadi embrio dengan bantuan ilmu kedokteran. Dikatakan sebagai kehamilan, bayi tabung karena benih laki-laki yang disedut dari zakar laki-laki disimpan dalam suatu tabung.
Untuk menjalani proses pembuahan yang dilakukan di luar rahim, perlu disediakan ovom (sel telur dan sperma). Jika saat ovulasi (bebasnya sel telur dari kandung telur) terdapat sel-sel yang masak maka sel telur itu di hisab dengan sejenis jarum suntik melalui sayatan pada perut, kemudian di taruh dalam suatu taqbung kimia, lalu di simpan di laboratorium yang di beri suhu seperti panas badan seorang wanita. Kedua sel kelamin tersebut bercampur (zygote) dalam tabung sehingga terjadinya fertilasi. Zygote berkembang menjadi morulla lalu dinidasikan ke dalam rahim seorang wanita. Akhirnya wanita itu akan hamil. Inseminasi permainan (pembuahan) buatan telah dilakukan oleh para sahabat nabi terhadap pohon korma. Bank sperma atau di sebut juga bank ayah mulai tumbuh pada awal tahun 1970.
B. motivasi di lakukan inseminasi buatan
Inseminasi buatan yang dilakukan untuk menolong pasangan yang mandul, untuk mengembang biakan manusia secara cepat, untuk menciptakan manusia jenius, ideal sesuai dengan keinginan, sebagai alternative bagi manusia yang ingin punya anak tetapi tidak mau menikah dan untuk percobaan ilmiah
C. hukum inseminasi buatan
Inseminasi buatan dilihat dari asal sperma yang dipakai dapat dibagi dua:
  1. inseminasi buatan dengan sperma sendiri atau AIH (artificial insemination husband)
  2. inseminasi buatan yang bukan sperma suami atau di sebut donor atau AID (artificial insemination donor)
untuk inseminasi buatan dengan sperma suami sendiri di bolehkan bila keadaannya benar-benar memaksa pasangan itu untuk melakukannya dan bila tidak akan mengancam keutuhan rumah tangganya (terjadinya perceraian) sesuai dengan kaidah usul fiqh…………..
الحاجة تنزل منزلة الضرورة
hajat itu keperluan yang sangat penting dilakukan seperti keadaan darurat”.
Adapun tentang inseminasi buatan dengan bukan sperma suami atau sperma donor para ulama mengharamkannya seperti pendapat Yusuf Al-Qardlawi yang menyatakan bahwa islam juga mengharamkan pencakukan sperma (bayi tabung). Apabila pencakukan itu bukan dari sperma suami.
Mahmud Syaltut mengatakan bahwa penghamilan buatan adalah pelanggaran yang tercela dan dosa besar, setara dengan zina, karena memasukan mani’ orang lain ke dalam rahim perempuan tanpa ada hubungan nikah secara syara’, yang dilindungi hukum syara’.
Pada inseminasi buatan dengan sperma suami sendiri tidak menimbulkan masalah pada semua aspeknya, sedangkan inseminasi buatan dengan sperma donor banyak menimbulkan masalah di antaranya masalah nasab.

Bayi Inseminasi buatan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Inseminasi buatan adalah peletakan sperma ke follicle ovarian (intrafollicular), uterus (intrauterine), cervix (intracervical), atau tube fallopian (intratubal) wanita dengan menggunakan cara buatan dan bukan dengan kopulasi alami.
Teknik modern untuk inseminasi buatan pertama kali dikembangkan untuk industri ternak untuk membuat banyak sapi dihamili oleh seekor sapi jantan untuk meningkatkan produksi susu.
Tabung
http://id.wikipedia.org/wiki/Inseminasi_buatan
Embrio
Proses Inseminasi


http://udhiexz.wordpress.com/2008/05/30/hasil-anak-inseminasi-dan-bayi-tabung/


Hakikat Manusia

LATAR BELAKANG
Tuhan menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna dan melengkapinya dengan sifat yang unggul. Keunggulannya dibandingkan seluruh makhluk sebagaimana ditunjukkan oleh kemampuan intelektualnya yang khas dalam berpikir dan memahami, dan kesiapannya untuk belajar dan mengembangkan budaya tidak perlu dipertanyakan lagi. Keunggulan-keunggulan yang dimiliki manusia membawanya kepada level makhluk yang paling tinggi.
Rasionalitas yang dimiliki memberinya independensi akan dirinya. Dengan independensinya, manusia mempunyai pilihan dalam menentukan arah kehidupannya sesuai dengan daya nalarnya (rasionalitas). Dengan rasionalitasnya, manusia diberi kebebasan bagaimana melakukan sesuatu.
Manusia diciptakan Tuhan sebagai khalifah (pengelola) bumi, keberadaan makhluk-makhluk lain semata-mata untuk dikelola/dikuasai oleh manusia. Pengelolaannya ini tentu bukan hanya larut dalam stagnasi, akan tetapi harus dinamis ke arah yang lebih baik (sarat akan nilai), hal ini menuntut manusia sebagai makhluk bukan bebas nilai.
Sebagai khalifah, manusia diberikan seperangkat pengetahuan dan keterampilan sebagai penunjang. Hasilnya adalah kebudayaan yang sarat akan nilai juga pengelolaan sumber daya yang ada di alam. Akan tetapi pengembangan yang tanpa kontrol justru membawa kea rah kerusakan. Jika terjadi demikian, berarti ada yang salah dalam proses pengembangan potensi (fitrah) yang dimiliki. Hal ini memungkinkan untuk revitalisasi pengembangan potensi sesuai dengan penciptaan hakikat manusia.


PERMASALAHAN
1.         Bagaimana fitrah manusia dalam pandangan filosofis dan psikologis?
2.         Bagaimana penempatan manusia sebagai makhluk individu, sosial, susila, dan religius?
3.         Bagaimana pengembangan potensi manusia dan implikasinya dalam dunia pendidikan?
PEMBAHASAN
MANUSIA; DISKURSUS FILOSOFIS DAN PSIKOLOGIS
Diskursus Filosofis
Manusia adalah makhluk yang mempunyai kesadaran, ia sadar bahwa ia ada (cogito ergo sum kata Descartes), bahkan ia sadar bahwa ia sadar. Kesadarannya berpusat pada psikis atau jiwa, dan bersifat langsung. (Sholeh dan Musbikin: 2005:70). Kesadaran membuatnya berbeda dengan makhluk lainnya. Kesadaran dapat membawanya kepada rasionalitas. Rasionalitas merupakan puncak tertinggi dari manusia. Fitrah (potensi) merupakan interaksi dan dialog terhadap lingkungan eksternal, di mana hasilnya membentuk kebudayaan yang sarat akan nilai. (Rosyadi: 2004: 39). Fitrah manusia merupakan potensi yang dapat dikembangkan.
Manusia merupakan makhluk yang bertanya, eksentris (tidak ada aku tanpa dunia dan sesama-sosial), paradoksal (kekhasan kedudukan manusia di dunia), dinamis, dan multi dimensional.( Snijders: 2004:13-16). Sebagai makhluk yang bertanya manusia selalu mempertanyakan segala hal yang baru baginya, bahkan eksistensinya sendiri pun dipertanyakan. Kemampuan mempertanyakan segala hal ini, manusia menjadi makhluk yang sadar. Sebagai makhluk eksentris, menunjukkan bahwa manusia tidak dapat hidup secara individual, manusia membutuhkan manusia lain dan lingkungan untuk hidup. Alam ini ada pun diciptakan untuk dikelola oleh manusia, hal ini mengukuhkan eksistensinya sebagai makhluk yang paradoksal. Perubahan-perubahan alam yang semakin berkembang sesuai dengan masa dan karakteristiknya, menunjukkan dinamisasi sifatnya. Sebagai makhluk multi dimensional, manusia terdiri dari dua substansi yaitu substansi materi dan immateri.
Substansi material (atau yang sering disebut jasad/tubuh), komponen ini berfungsi sebagaimana fungsi indra (mendengar, melihat, meraba, mengecap, mencium) serta fungsi fisiologis mekanis, tidak berdiri sendiri, berbentuk komposisi, tidak kekal dan berada dalam alam jasad (jisim). Sedangkan immaterial (psikis/ruh), ada dua fungsi yang signifikan pada komponen ini, yaitu daya pikir (rasionalitas/nalar) dengan akal (bukan organ otak) dan rasa (spiritualitas) dengan hati (bukan organ hati), berdiri sendiri tidak berbentuk komposisi, mempunyai daya mengetahui dan menggerakkan, kekal dan berasal dari dunia metafisik.(Nizar: 2002:16)
Menurut eksistensinya, manusia merupakan makhluk kosmis yang dilengkapi dengan semua pembawaan dan syarat yang diperlukan untuk mengemban tugas dan fungsi sebagai makhluk Tuhan. (Nizar: 2002: 1). Para filosof percaya bahwa kosmos (alam raya) dengan segala atributnya merupakan jagat besar, hal ini karena masing-masing komponennya saling berinteraksi secara harmonis-mekanis. Manusia merupakan jagat kecil, hal ini karena nilai-nilai yang ada di kosmos dapat terangkum dalam tubuh manusia. Interaksi antar organ dan sistem dalam tubuh manusia menciptakan harmonisasi dan mekanistis yang hampir sama dengan planet maupun antariksa di jagat raya.
Kalangan Aristotelian, beranggapan bahwa jiwa (ruh) mempunyai tiga tipe atau tahapan; pertama, vegetatif, di mana pada tahapan ini jiwa mampu menyerap makanan dan reproduksi sendiri. Jiwa ini yang dimiliki tumbuhan (level/tahap tumbuhan). Kedua, sensitif, pada tahap ini jiwa selain mempunyai jiwa vegetatif juga mempunyai daya penggerak dan refleks. Jadi rangsangan-rangsangan dari luar, langsung bisa direspon secepat mungkin karena sensitifitas yang dimiliki. Pada tahapan ini, jiwa dilengkapi seperangkat jasmaniah yang mendukung berupa alat indra. Jiwa ini yang dimiliki oleh hewan (level/tahap hewan). Dan ketiga, rasional, jiwa pada tahapan ini merupakan jiwa tertinggi, di mana keberadaannya mampu berpikir secara sadar. Jadi tidak hanya jiwa vegetatif maupun sensitif saja. Jiwa ini yang dimiliki oleh manusia (level/tahap manusia). (Abidin: 2002: 37)
Berbeda dengan Rene Descarter (1596-1650) yang berpendapat bahwa manusia tidak melulu fisiologi mekanis (jiwa vegetatif dan sensitif, dikatakan mekanis karena didalamnya ada proses percernaan, respirasi, sirkulasi, reproduksi, dan sebagainya). Descartes berpendapat bahwa manusia hanya memiliki jiwa rasional saja dan menolak mekanistis. Keberadaan manusia merupakan hasil interaksi antara jiwa rasional dan tubuh. Landasan berpikir Descartes adalah manusia yang tampak bukanlah  hakikat dari manusia itu sendiri, hakikat manusia adalah konsep manusia, sedangkan yang tampak adalah interpretasi dari konsep manusia.(Abidin: 2002: 42)
Berbeda menurut kaum materialisme, di mana manusia adalah makhluk alam yang konkrit, bukan ruh yang terjun ke dalam materi. Manusia merupakan bagian integral dari alam dan materi, dengan kata lain manusia tergantung dari alam sekaligus mempunyai sikap aktif terhadap alam, dari alamlah manusia memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya melalui praksis kerja. ( Muawiyah: 2004:122) Manusia merupakan bentuk materi yang mekanis (materialisme-mekanis), di mana terdiri atas proses-proses fisologis, neurologis, fisika, biokimia yang bekerja sebagai sistem organisasi berpusat pada central nervous system (sistem syaraf pusat). (Jalaludin: 2007:17)
Diskursus Psikologis
Adanya diskursus psikologi tentang keberadaan manusia, memudahkan arahan pengembangan fitrah (potensi) manusia. Para pakar psikologi berbeda tentang pengembangan potensi, hal ini penting untuk dunia pendidikan.
Aliran psikoanalisis (Sigmund Freud –1856-1939). Freud membagi struktur kepribadian manusia menjadi tiga sistem, yaitu; Id (doronganan-dorongan biologis), Ego (kesadaran terhadap realitas kehidupan), dan superego (kesadaran normatif). Ketiganya saling berinteraksi dan memiliki fungsi dan mekanisme yang khas.
Pada tingkatan Id, manusia berperan sebagai tubuh mekanis, membutuhkan udara untuk proses respirasi, membutuhkan makanan untuk proses pencernaan, dan lain sebagainya. Pada tingkatan Ego, manusi berperan sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan orang lain dalam proses kehidupannya, membutuhkan alam guna memenuhi kebutuhannya, dan kehidupannya sarat akan kepentingan. Dan pada tingkatan Superego, manusia kembali kepada fitrahnya (asal penciptaannya). Manusia kembali dengan segala kesadarannya, kesadaran sebagai makhluk, khalifah, dan kesadarn bahwa dia sadar.
Aliran behavioristik (Ivan Pavlov, John B. Waston, dan B.F. Skinner). Teorinya tentang stimultis-respon mengatakan bahwa manusia ketika dilahirkan tidak membawa bakat apa-apa, dan akan berkembang setelah menerima stimulus dari lingkungan. Jadi manusia pada dasarnya netral, yang menentukan baik buruknya adalah lingkungan luar. Teori ini berkembang berlandaskan filsafat empirisme, di mana beranggapan bahwa manusia lahir dalam keadaan kosong seperti kertas putih, karena pengalaman lah yang memberinya warna, menggoreskan tulisan-tulisan di setiap lembarnya, sehingga pengetahuan akan terbentuk berdasarkan pengalaman.
Aliran humanistik (Abraham Maslow dan C.R. Rogers). Semua manusia memiliki perjuangan atau kecenderungan yang dibawa sejak lahir untuk mengaktualisasikan diri. Manusia mempunyai otoritas akan dirinya sendiri.( Sholeh dan Musbikin: 2005:32). Aliran ini muncul akibat ketidaksetujuan dengan dua pandangan sebelumnya, yaitu psikoanalisis dan behavioristik. Pandangan psikoanalis terlalu menunjukkan pesimisme suram serta keputusasaan,sedangkan behavioristik diangga terlalu kaku (mekanistik), pasif, dan statis.(Baharuddin dan Nur Wahyuni: 2008: 141)
MANUSIA; MAKHLUK INDIVIDU, SOSIAL, SUSILA, DAN RELEGIUS
Manusia sebagai Makhluk Individu
Setiap insan yang dilahirkan tentunya mempunyai pribadi yang berbeda atau menjadi dirinya sendiri, sekalipun sanak kembar. Itulah uniknya manusia. Adanya individulitas setiap orang memiliki kehendak, perasaan, cita-cita, kecenderungan, semangat, daya tahan yang berbeda.  Kesanggupan untuk memikul tanggung jawab sendiri merupakan ciri yang sangat essensial dari adanya individualitas pada diri setiap insan.
Sebagai makhluk individu, manusia memerlukan pola tingkah laku yang bukan merupakan tindakan instingtif belaka. Manusia yang biasa dikenal dengan Homo sapiens memiliki akal pikiran yang dapat digunakan untuk berpikir dan berlaku bijaksana. Dengan akal tersebut, manusia dapat mengembangkan potensi-potensi yang ada di dalam dirinya seperti, karya, cipta, dan karsa. Dengan pengembangan potensi-potensi yang ada, manusia mampu mengembangkan dirinya sebagai manusia seutuhnya yaitu makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna.
Perbedaan individualitas setiap insan nampak secara khusus pada aspek sebagai berikut
a.         Perbedaan fisik: usia, tingkat dan berat badan, jenis kelamin, pendengaran, penglihatan, kemampuan bertindak.
b.         Perbedaan sosial: status ekonomi,agama, hubungan keluarga, suku.
c.         Perbedaan kepribadian: watak, motif, minat dan sikap.
d.         Perbedaan kecakapan atau kepandaian
Manusia sebagai Makhluk Sosial
Manusia adalah makhluk yang selalu berinteraksi dengan sesamanya. Manusia tidak dapat mencapai apa yang diinginkan dengan dirinya sendiri. Sebagai makhluk sosial karena manusia menjalankan peranannya dengan menggunakan simbol untuk mengkomunikasikan pemikiran dan perasaanya. Manusia tidak dapat menyadari individualitas, kecuali melalui medium kehidupan sosial. Manisfestasi manusia sebagai makhluk sosial, nampak pada kenyataan bahwa tidak pernah ada manusia yang mampu menjalani kehidupan ini tanpa bantuan orang lain.
Kesadaran manusia sebagai makhluk sosial, justru memberikan rasa tanggungjawab untuk mengayomi individu yang jauh lebih ”lemah” dari pada wujud sosial yang ”besar” dan ”kuat”. Kehidupan sosial, kebersamaan, baik itu non formal (masyarakat) maupun dalam bentuk-bentuk formal (institusi, negara) dengan wibawanya wajib mengayomi individu. Esensi manusia sebagai makhluk sosial pada dasarnya adalah kesadaran manusia tentang status dan posisi dirinya adalah kehidupan bersama, serta bagaimana tanggungjawab dan kewajibannya di dalam kebersamaan.
Manusia sebagai Makhluk Susila
Susila berasal dari kata “su” dan “sila” yang artinya kepantasan yang lebih tinggi. Istilah susila biasanya diinterpretasikan dengan istilah etiket (persoalan kepantasan dan kesopanan) dan etika (persoalan kebaikan). Kesusilaan selalu berhubungan dengan nilai-nilai. Nilai-nilai merupakan sesuatu yang dijunjung tinggi oleh manusia karena mengandung makna kebaikan, keluhuran, kemuliaan dan sebagainya, sehingga dapat diyakini dan dijadikan pedoman dalam hidup.
Kehidupan manusia yang tidak dapat lepas dari orang lain, membuat orang harus memiliki aturan-aturan norma. Aturan-aturan tersebut dibuat untuk menjadikan manusia menjadi lebih beradab. Menusia akan lebih menghargai nilai-nilai moral yang akan membawa mereka menjadi lebih baik.
Pentingnya mengetahui dan menerapkan secara nyata norma, nilai dan kaidah masyarakat dalam kehidupan sehari-hari mempunyai beberapa alasan, antara lain:
Pertama, Untuk kepentingan dirinya sendiri sebagai individu
Setiap individu harus dapat menyesuaikan terhadap kehidupan dan bertingkah laku sesuai norma, nilai, dan kaidah yang berlaku pada masyarakat, agar individu tersebut merasa aman, diterima dalam kelompok masyarakat tersebut.
Kedua, Untuk kepentingan stabilitas kehidupan masyarakat itu sendiri
Dalam kehidupan bermasyarakat tentunya memiliki aturan yang berupa norma, nilai dan kaidah sosial yang mengatur tingkah laku individu yang bergabung didalamya. Norma, nilai dan kaidah sosial tersebut merupakan hasil persetujuan bersama demi untuk dilaksanakan dalam kehidupan bersama, demi untuk mencapai tujuan bersama.
Manusia sebagai Makhluk Keberagamaan
Manusia adalah makhluk beragama, dalam arti bahwa mereka percaya dan/atau menyembah Tuhan, melakukan ritual (ibadah) atau upacara-upacara. Suatu fenomena bahwa manusia menyembah, berdoa, menyesali diri dan minta ampun kepada sesuatu yang ghaib, walaupun kemudian ada yang menjadi agnostic (tidak mau tahu akan adanya Tuhan) atau atheis (mengingkari adanya Tuhan). Mereka cenderung untuk mengganti Tuhan yang bersifat pribadi seperti negara, ras, proses alam, pengabdian total untuk mencari kebenaran atau ideal-ideal yang lain.
Manusia diciptakan Tuhan Yang Maha Kuasa di muka bumi ini sebagai makhluk yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lain. Melalui kesempurnaannya itu manusia bisa berpikir, bertindak, berusaha, dan bisa menentukan mana yang benar dan baik. Di sisi lain, manusia meyakini bahwa dia memiliki keterbatasan dan kekurangan. Mereka yakin ada kekuatan lain, yaitu Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta. Sudah menjadi fitrah manusia jika manusia mempercayai adanya Sang Maha Pencipta yang mengatur seluruh sistem kehidupan di muka bumi.
Hubungan pribadi manusia dengan Tuhan lebih bersifat trasendental, karena hubungan ini lebih banyak melibatkan rohani pribadi manusia yang bersifat perseorangan. Dengan adanya agama maka manusia mulai menganutnya. Beragama merupakan kebutuhan manusia karena manusia adalah makhluk yang lemah sehingga memerlukan tempat bertopang. Manusia memerlukan agama demi keselamatan hidupnya.
PENGEMBANGAN DAN IMPLIKASINYA DALAM PENDIDIKAN
Pengembangan Manusia Sebagai Makhluk Individu
Perkembangan manusia secara perorangan melalui tahap-tahap yang memakan waktu puluhan atau bahkan belasan tahun untuk menjadi dewasa. Upaya pendidikan dalam menjadikan manusia semakin berkembang. Perkembangan keindividualan memungkinkan seseorang untuk mengmbangkan setiap potensi yang ada pada dirinya secara optimal.
Pengembangan Manusia Sebagai Makhluk Sosial
Di dalam kehidupannya, manusia tidak hidup dalam kesendirian. Manusia memiliki keinginan untuk bersosialisasi dengan sesamanya. Ini merupakan salah satu kodrat manusia adalah selalu ingin berhubungan dengan manusia lain. Dalam kehidupan manusia selanjutnya, ia selalu hidup sebagai warga suatu kesatuan hidup, warga masyarakat, dan warga negara. Hidup dalam hubungan antaraksi dan interdependensi itu mengandung konsekuensi-konsekuensi sosial baik dalam arti positif maupun negatif. Keadaan positif dan negatif ini adalah perwujudan dari nilai-nilai sekaligus watak manusia bahkan pertentangan yang diakibatkan oleh interaksi antarindividu. Tiap-tiap pribadi harus rela mengorbankan hak-hak pribadi demi kepentingan bersama.
Tidak hanya terbatas pada segi badaniah saja, manusia juga mempunyai perasaaan emosional yang ingin diungkapkan kepada orang lain dan mendapat tanggapan emosional dari orang lain pula. Manusia memerlukan pengertian, kasih saying, harga diri pengakuan, dan berbagai rasa emosional lainnya. Tanggapan emosional tersebut hanya dapat diperoleh apabila manusia berhubungan dan berinteraksi dengan orang lain dalam suatu tatanan kehidupan bermasyarakat.
Dalam berhubungan dan berinteraksi, manusia memiliki sifat yang khas yang dapat menjadikannya lebih baik. Kegiatan mendidik merupakan salah satu sifat yang khas yang dimiliki oleh manusia. Imanuel Kant mengatakan, “manusia hanya dapat menjadi manusia karena pendidikan”. Jadi jika manusia tidak dididik maka ia tidak akan menjadi manusia dalam arti yang sebenarnya. Pendidikan memberikan kontribusi bagi pembentukan pribadi seseorang.
Pengembangan manusia sebagai makhluk Susila
Hubungan dan kebersamaan dengan sesama manusialah manusia dapat hidup dan berkembang sebagai manusia. Manusia bertindak, tidak sembarang bertindak, melainkan mereka dapat mempertimbangkan, merancang, dan mengarahkan tindakannya. Persoalan mengenai masalah apakah tindakannya baik dan tidak baik, adalah persoalan tentang nilai, persoalan norma, persoalan moral atau susila. Peran pendidikan disini membantu mengarahkan perbuatan anak dalam kehidupannya dimasa mendatang. Dengan pendidikan pula peserta didik dapat tumbuh kesadarannya terhadap nilai, dapat tumbuh suatu sikap untuk berbuat dan mau berbuat selaras dengan nilai, atau berbuat selaras dengan apa yang seharusnya diperbuat. Perbuatan yang selaras dengan nilai itulah yang menjadi inti dari perbuatan yang bertanggung jawab.
Pandangan manusia sebagai makhluk susila atau bermoral, bersumber pada kepercayaan bahwa budi nurani manusia secara apriori adalah sadar nilai dan pengabdi norma-norma. Struktur jiwa yang disebut das Uber Ich (super ego) yang sadar nilai esensial manusia sebagai makhluk susila. Kesadaran susila (sense of morality) tidak dapat dipisahkan dengan realitas sosial, sebab adanya nilai, efektifitas nilai, berfungsinya nilai hanya ada di dalam kehidupan sosial, artinya kesusilaan atau moralitas adalah fungsi sosial. Tiap hubungan sosial mengandung hubungan moral. “Tiada hubungan sosial tanpa hubungan susila, dan tiada hubungan susila tanpa hubungan sosial”.
Kodrat manusia sebagai makhluk susila dapat hidup aktif-kreatif, sadar diri dan sadar lingkungan, maka intervensi pendidikan bukan hanya sekedar penanaman kebiasaan atau latihan namun juga memerlukan motivasi dan pembinaan kata hati atau hati nurani yang kelak akan membentuk suatu keputusan. Pendidikan harus mampu menciptakan manusia susila, karena hanya dengan pendidikan kita dapat memanusiakan manusia. Dengan mengusahakan peserta didik menjadi manusia pendukung norma, kaidah, dan nilai-nilai susila dan sosial yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya.
Pengembangan Manusia Sebagai Mahluk Religius
Manusia dapat menghayati agama melalui proses pendidikan agama, penanaman sikap dan kebiasaan dalam beragama dimulai sedini mungkin, meskipun masih terbatas pada latihan kebiasaan (habit formation). Tetapi sebagai pengembangan pengkajian lebih lanjut tentunya tidak dapat diserahkan hanya kepada satu pihak sekolah saja atau orang tua saja melainkan keduannya harus berperan. Untuk memenuhi kebituhan manusia tentang pengetahuan agama, maka dimasukkannya kurikulum pendidikan agama di sekolah-sekolah.
KESIMPULAN
1.         Manusia merupakan makhluk kosmis yang dilengkapi dengan semua pembawaan dan syarat yang diperlukan untuk mengemban tugas dan fungsi sebagai makhluk Tuhan. Para filofos berbeda pendapat tentang konsep manusia, seperti halnya  kalangan Aristotelian, beranggapan bahwa jiwa (ruh) mempunyai tiga tipe atau tahapan; vegetatif, sensitif, dan rasional. Sedangkan Rene Descarter (1596-1650) berpendapat bahwa manusia hanya memiliki jiwa rasional saja dan menolak mekanistis. Berbeda dengan kaum materialis (materialisme), manusia merupakan bentuk materi yang mekanis (materialisme-mekanis), menolak adanya ruh (unsur ruhaniah). Para pakar psikologi berbeda tentang pengembangan potensi, hal ini penting untuk dunia pendidikan. Pertama, pemembagian struktur kepribadian manusia menjadi tiga sitem; Id, Ego dan superego oleh aliran psikoanalisis. Kedua, anggapan tentang manusia ketika dilahirkan tidak membawa bakat apa-apa, dan akan berkembang setelah menerima stimulus dari lingkungan oleh aliran behavioristik. Dan ketiga, teori bahwa manusia memiliki perjuangan atau kecenderungan yang dibawa sejak lahir untuk mengaktualisasikan diri oleh aliran humanistik.
2.         Sebagai makhluk individu menjadikan manusia sebagai makhluk yang unik, manusia yang satu berbeda dengan manusia lainnya. Sebagai makhluk sosial menunjukkan bahwa tidak pernah ada manusia yang mampu menjalani kehidupan ini tanpa bantuan orang lain. Keterikatan antara individu dalam dunia sosial menciptakan sebuah pola sebagai kesepakatan bersama, pola tersebut sering disebut susila (manusia sebagai makhluk susila). Dan manusia meyakini bahwa dia memiliki keterbatasan dan kekurangan. Mereka yakin ada kekuatan lain, yaitu Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta (manusia sebagai makhluk relegius).
3.         Implikasinya dalam dunia pendidikan menuntut agar terpenuhinya kebutuhan keberadaan manusia sebagai makhluk indivual, sosial, susila, dan relegius. Keempat hal tersebut menjadi dasar tujuan pendidikan di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Zainal. 2002. Filsafat Manusia. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Baharuddin dan Nur Wahyuni, Esa. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Ar Ruzz Media Grup
http://guruit07.blogspot.com/2009/01/pengembangan-manusia-sebagai-makhluk.html
http://www.infodiknas.com/daspen1/
Jalaludin. 2007. Teologi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Muawiyah, Andi Ramly. 2004. Peta Pemikiran Karl Marx. Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara.
Nizar, Samsul. 2002. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press.
Rosyadi, Khoiron. 2004. Pendidikan Profetik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sholeh, Mohammad dan Musbikin, Imam. 2005.Agama sebagai Terapi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Snijders, Adelbert. 2004. Antropologi Filsafat Manusia Paradoks dan Seruan. Yogyakarta: Kanisiu

Ayat-Ayat Tentang Syafaat



 Banyak sekali kita temukan ayat-ayat suci Al Quran yang menunjukkan adanya syafaat, seperti ayat di bawah ini,
هل ينظرون إلاّ تأويله يوم يأتي تأويله يقول الذين نسوه من قبل قد جاءت رسل ربّنا بالحقّ فهل لنا من شفعاء فيشفعوا لنا أو نردّ فنعمل غير الّذي كنّا نعمل قد خسروا أنفسهم وضلّ عنهم ما كانوا يفترون
Artinya: Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al Quran itu. Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al Quran, berkatalah orang-orang yang sebelum itu telah melupakannya, “Sesungguhnya telah datang utusan-utusan Tuhan kami dengan membawa kebenaran. Adakah pemberi syafaat bagi kami atau dapatkah kami kembali (ke dunia) sehingga kami dapat melakukan perbuatan yang lain dari apa yang pernah kami perbuat?” Sesungguhnya mereka telah merugikan diri sendiri dan lenyaplah tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan.
Ayat ini  menceritakan tentang keadaan yang dialami oleh mereka yang telah mendustakan Allah. Pada hari kiamat, mereka tidak mendapatkan syafaat karena mereka adalah orang-orang telah merugikan diri sendiri. Artinya, pada saat yang sama, ayat ini menjelaskan akan adanya syafaat yang tidak bakal mereka terima.
Allah SWT berfirman,
 لا يملكون الشّفاعة إلاّ من اتّخذ عند الرحمن عهدا
Artinya: Tidak ada orang yang mendapatkan syafaat kecuali mereka yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah.[5]
Pada ayat lain, Allah berfirman,
يومئذ لا تنفع الشّفاعة إلاّ من أذن له الرّحمن ورضي له قولا
Artinya: Di hari itu, syafaat tidak akan berguna kecuali bagi orang yang telah diberi izin oleh Allah dan diridhai perkataannya.

Simak pula ayat berikut ini.
ولا يملك الّذين يدعون من دونه الشّفاعة إلاّ من شهد بالحقّ وهم يعلمون
Artinya: Dan sesembahan yang mereka sembah tidak dapat memberi syafaat. Akan tetapi (yang dapat memberi syafaat adalah) orang yang menyaksikan kebenaran dan mereka yang mengetahuinya.[7]
Semua ayat di atas (dan masih banyak ayat lainnya) menunjukkan akan adanya syafaat di hari kiamat nanti. Hanya saja, pemberi syafaat haruslah memiliki beberapa kriteria seperti,
من اتّخذ عند الرحمن عهدا
Mereka yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah.
من أذن له الرّحمن
Orang yang telah diberi izin oleh Allah.
من شهد بالحقّ وهم يعلمون
Orang yang menyaksikan kebenaran dan mereka yang mengetahuinya.
Mereka yang memiliki tiga sifat tersebut adalah hamba-hamba Allah yang berhasil mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi-Nya sehingga bisa memberi syafaat kepada orang-orang yang mereka kehendaki, tentunya setelah mendapat izin dari Allah SWT.
Untuk lebih jelasnya, kami anjurkan pembaca yang budiman untuk menelaah ayat-ayat yang berkenaan dengan hal ini, yang nantinya juga akan kami singgung pada pembasahan-pembahasan yang akan datang. Ayat-ayat tersebut adalah:
Surat Al-Baqarah ayat 48, 123, 254, dan 255, Surat Al-Nisa’ ayat 85, Surat Al-A’raf ayat 53, Surat Al-Anbiya’ ayat 28, Surat Al-Syu’ara’ ayat 100, Surat Al-Muddatstsir ayat 48, Surat Al-An’am 5 ayat 1, 70, dan 94, Surat Yunus ayat 3 dan 18, Surat Maryam ayat 87, Surat Thaha ayat 109, Surat Saba’ ayat 23, Surat Al-Zumar ayat 43 dan 44, Surat Al-Zukhruf ayat 86, Surat Yasin ayat 23, Surat Al-Najm ayat 26, Surat Al-Fajr ayat 3, Surat Ghafir ayat 18, dan Surat Al-Rum ayat 13

Dalam banyak ayatnya, Al Quran Al-Karim dengan sangat jelas menyebut bahwa kaum musyrik --mereka yang menyekutukan Allah-- tidak akan mendapat syafaat di hari kiamat. Pada saat yang sama semua sesembahan mereka selain Allah tidak dapat memberikan bantuan apapun kepada mereka. Allah SWT berfirman,
ويعبدون من دون الله مالا يضرّهم ولا ينفعهم و يقولون هؤلاء شفعاؤنا عند الله قل أتنبئون الله بما لا يعلم في السّموات ولا في الأرض سبحانه وتعالى عمّا يشركون
Artinya: Dan mereka menyembah selain Allah apa-apa yang tidak dapat mendatangkan petaka bagi mereka dan tidak pula memberikan manfaat, dan mereka berkata, “Mereka inilah yang akan memberi syafaat kepada kami di sisi Allah.” Katakanlah, “Apakah kalian memberitahu Allah sesuatu yang tidak dikenal oleh-Nya baik di langit maupun di bumi?” Mahasuci Allah dari apa-apa yang mereka persekutukan.
ولم يكن لهم من شركائهم شفعاء وكانوا بشركائهم كافرين ..
Artinya: Dan tidak ada di antara sesembahan itu yang dapat memberi syafaat kepada mereka, dan mereka mengingkari persekutuan itu.
… وما نرى معكم شفاءكم الذين زعمتم أنّهم فيكم شركاء لقد تقطّع بينكم وضلّ عنكم ما كنتم تزعمون
Artinya: …dan Kami tidak melihat adanya pemberi syafaat bagi kalian dari sesembahan-sesembahan ini yang telah kalian jadikan sebagai sekutu (Allah). Sungguh telah terputuslah (hubungan) di antara kalian dan lenyaplah apa kalian dakwakan sebelum ini.
أم اتّخذوا من دون الله شفعاء قل أو لو كانوا لا يملكون شيئا ولا يعقلون
Artinya: Bahkan mereka memilih pemberi syafaat selain dari Allah. Katakanlah, “Apakah hal ini kalian lakukan padahal mereka tidak memiliki apapun dan tidak berakal?”
ءأتخذ من دونه آلهة إن يردن الرّحمن بضرّ لا تغن عنّي شفاعتهم شيئا ولا ينقذون
Artinya: Mengapa aku mesti memilih tuhan-tuhan lain selain Dia.  Jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghen-daki suatu petaka bagiku, niscaya mereka tidak akan dapat memberiku syafaat dan mereka tidak dapat menyelamatkanku.
Hadits tentang syafaat

4. Beliau SAWW juga bersabda,
...
اشفعوا تشفّعوا و يقضي الله عزّ وجلّ على لسان نبيّه ما شاء
Artinya: …Mintalah syafaat, niscaya kalian akan mendapatkannya dan Allah SWT akan mengabulkan semua permintaan Nabi-Nya. [22]
5. Anas bin Malik meriwayatkan, bahwa Nabi SAWW bersabda,
أنا أوّل شفيع في الجنّة ...
Artinya: Aku adalah orang pertama yang memberi syafaat di surga…[23]
6. Ka’ab Al-Ahbar membawakan hadis yang sama dengan riwayat Abu Hurairah bahwa Rasulullah Muhammad SAWW bersabda,
لكلّ نبي دعوة يدعوها فأريد أن أختبئ دعوتي شفاعة لأمّتي يوم القيامة
Artinya: Semua nabi memiliki doa yang dikabulkan oleh Allah dan aku menyimpan doa ini sebagai syafaat untuk umatku di hari kiamat.[24]
7. Abu Nadhrah berkata, “Suatu hari Ibnu Abbas r.a. berkhotbah di mimbar masjid kota Bashrah. Ia berkata bahwa Rasulullah SAWW pernah bersabda,
إنّه لم يكن نبي إلاّ له دعوة قد تنجزها في الدّنيا وإنّي قد اختبأت دعوتي شفاعة لأمتي وأنا سيّد ولد آدم يوم القيامة ولا فخر ... فيقال ارفع رأسك وقل تُسمع وسل تُعط واشفع تشفّع ، قال صلى الله عليه وآله وسلّم :                   
فارفع رأسي فأقول أي ربي أمتي أمتي فيقال لي أخرج من النّار من كان في قلبه كذا وكذا فأخرجهم
Artinya: Semua nabi mempunyai sebuah doa mustajab di dunia. Namun aku menyimpannya untuk hari kiamat kelak sebagai syafaat bagi umatku. Tanpa menyombongkan diri, aku adalah penghulu seluruh anak cucu Adam…(di hari kiamat kelak) aku akan mendengar suara yang mengatakan, “Angkatlah kepalamu. Katakan sesuatu pasti kata-katamu akan didengar. Mintalah sesuatu, pasti permintaanmu akan terkabul dan berilah syafaat niscaya syafaatmu akan diterima.” Lalu aku mengangkat kepalaku seraya mengatakan, “Wahai Tuhanku, umatku-umatku.” Allah SWT menjawab, “Keluarkanlah siapa saja yang memiliki sifat ini dan ini di hatinya.” Lantas aku pun mengeluarkan mereka dari neraka.” [25]
8. Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan bahwa Nabi SAWW bersabda,
أُعطيتُ خمسا لم يعطهنّ نبي قبلي ولا أقولهن فخرا بعثت إلى الناس كافة الأحمر و الأسود ، و نُصرتُ بالرعب مسيرة شهر ، وأحلت لي الغنائم ولم تحل لأحد قبلي ، وجعلت لي الأرض مسجدا وطهورا ، وأعطيت الشفاعة فاخرتها لأمتي فهي لمن لا يشرك بالله شيئا
Artinya: Aku telah diberi oleh Allah lima perkara yang tidak pernah Dia berikan kepada seorang nabi pun selainku, dan (ketahuilah) bahwa aku mengatakannya kepada kalian bukan karena rasa sombongku. (1) Aku diutus kepada seluruh umat manusia, baik mereka yang berkulit merah maupun yang berkulit hitam. (2) Aku telah diberi kemenangan atas musuh-musuhku dengan perasaan takut yang menghantui mereka terhadapku, dari jarak perjalanan satu bulan. (3) Harta ghanimah (rampasan perang) halal bagiku, padahal sebelumnya tidak. (4) Seluruh permukaan bumi adalah masjid (tempat bersujud) dan suci dalam syariat yang kubawa ini. (5) Aku juga dianugerahi oleh Allah hak memberi syafaat yang aku simpan untuk umatku di hari kiamat dan akan kuberikan kepada siapa saja yang tidak menyekutukan Allah dengan selain-Nya.[26]
9. Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAWW bersabda,
إذا سمعتم مؤذنا فقولوا مثل ما يقول ثمّ صلّوا عليّ فإنّه من صلّى عليّ صلّى الله عليه بها عشرا ثمّ سلوا لي الوسيلة فإنّها منزلة في الجنة لا تنبغي إلاّ لعبد من عباد الله , و أرجو أن أكون أنا هو , فمن سأله لي الوسيلة حلّت عليه الشفاعة
Artinya: Jika kalian mendengar seorang muazin mengumandangkan azan maka tirukanlah setiap kata yang ia ucapkan. Lalu bacalah shalawat kepadaku. Karena jika seseorang membaca shalawat kepadaku maka Allah akan memberikan rahmat kepadanya sepuluh kali karena shalawatnya tersebut. Kemudian, mintalah wasilah untukku, karena wasilah itu adalah sebuah kedudukan yang tinggi di surga yang hanya berhak didapatkan oleh seorang hamba Allah yang sebenarnya, dan aku berharap semoga aku dijadikan sebagai hamba Allah yang sebenarnya itu. (Ketahuilah) jika seseorang  memohonkan washilah untukku, ia pasti akan mendapatkan syafaatku. [27]
10. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi SAWW saat menafsirkan ayat,  عسى أن يبعثك ربك مقاما محمودا
bersabda,
الشفاعة
Artinya: (Maksudnya adalah) syafaat.[28]
11. Rasulullah SAWW bersabda,
رأيت ما تلقى أمتي بعدي ... فسألت أن يوليني شفاعة يوم القيامة فيهم ففعل
Artinya: Aku telah mengetahui apa yang kelak akan dilakukan oleh umatku…Karena itulah aku memohon kepada-Nya untuk memberiku hak memberi syafaat kepada mereka, dan Dia mengabulkannya.[29]
12. Dalam hadis yang lain beliau SAWW bersabda,
ليخرجنّ قوم من أمتي من النار بشفاعتي يسمّون الجهنميين
Artinya: Kelak di hari kiamat akan ada sekelompok orang dari umatku yang keluar dari siksa api neraka berkat syafaatku, mereka inilah yang disebut dengan Jahanna-miyyun (orang-orang dari neraka jahannam). [30]
13. Rasulullah SAWW bersabda,
شفاعتي نائلة إنشاء الله من مات ولا يشرك بالله شيئا
Artinya: Syafaatku, insya Allah, akan didapatkan oleh siapa saja yang mati tanpa menyekutukan Allah dengan selain-Nya. [31]
14. Diriwayatkan bahwa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. berkata,
لنا شفاعة ولأهل مودتنا شفاعة
Artinya: Kami memiliki syafaat yang akan diberikan kepada mereka yang mencintai kami.[32]
15. Imam Ali Zainal Abidin a.s. dalam doa beliau mengatakan,
اللهمّ صلّ على محمد وآل محمد و شرّف بنيانه و عظّم برهانه , وثقّل ميزانه و تقبل شفاعته
Artinya: Ya Allah, limpahkalah shalawat atas Muhammad dan keluarganya. Muliakanlah kedudukan-nya, kuat-kanlah agamanya, beratkanlah neraca amalnya dan terimalah syafaatnya. [33]
16. Rasulullah SAWW bersabda,
يا بني عبد المطلب إنّ الصدقة لا تحلّ لي ولا لكم , ولكني وعدت الشفاعة
Artinya: Wahai Bani Abdul Muththalib, sedekah haram bagiku dan bagi kalian semua, dan (sebagai gantinya) aku menjanjikan syafaat (untuk kalian).[34]
17. Imam Zainal Abidin a.s. dalam doanya berkata,
... وتعطف عليّ بجودك وكرمك , وأصلح منّي ما كان فاسدا , وتقبل مني ما كان صالحا , وشفّع فيّ محمدا وآل محمد , واستجب دعائي وارحم تضرّعي وشكواي ...
Artinya: (Ya Allah) perlakukanlah aku dengan kemurahan dan kebaikan-Mu. Luruskanlah semua hal buruk yang ada pada diriku dan terimalah amal kebaikan yang kulakukan. Jadikanlah Muhammad dan keluarganya sebagai para pemberi syafaatku (di hari akhir). Kabulkan doaku dan kasihanilah kerendahan dan pengaduanku ini…[35]
18. Abu Abdillah Imam Ja’far Shadiq a.s. berkata,
المؤمن مؤمنان : مؤمن وفى لله بشروطه التي شرطها عليه , فذلك مع النبيـين و الصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقا وذلك من يشفع ولا يشفع لـه وذلك ممن لا تصيبه أهوال الدنيا ولا أهوال الآخرة , ومؤمن زلت به قدم فذلك كخامة الزرع كيفما كفئته الريح انكفأ و ذلك ممن تصيبه أهوال الدنيا و الآخرة و يشفع له و هو على خير
Artinya: Mukmin ada dua macam. Pertama adalah orang mukmin yang telah menepati semua janji suci keimanannya dengan Allah. Orang yang demikian ini akan bersama para nabi, shiddiqin, syuhada’ dan orang-orang saleh; sungguh kebersamaan yang terbaik. Ia kelak akan dapat mensyafaati dan tidak lagi memerlukan syafaat orang lain. Di hari kiamat, ia akan terbebas dari segala kekalutan yang ada saat itu. Sedang mukmin jenis kedua adalah orang mukmin yang tergoda hawa nafsunya sehingga melakukan kesalahan dan dosa. Ia laksana sebatang ranting patah yang dipermainkan oleh tiupan angin. Di hari kiamat ia tidak akan lepas dari ketakutan yang menimpa penghuni mahsyar, namun ia akan mendapat syafaat yang membawanya kepada kebaikan.[36]
19. Rasulullah SAWW bersabda,
إنّ ربكم تطوّل عليكم في هذا اليوم فغفر لمحسنكم و شفّع محسنكم في مسيئكم فأفيضوا مغفورا لكم
Artinya: Sesungguhnya pada hari ini Tuhan melihat kepada kalian dengan pandangan rahmat-Nya. Dia telah mengampuni mereka yang melakukan kebajikan dari kalian dan menjadikannya sebagai pemberi syafaat bagi siapa saja yang telah melakukan dosa di antara kalian. Kini, pergilah dalam keadaan dosa kalian telah diampuni oleh-Nya.
Dalam sebagian riwayat disebutkan tambahan ini,
إلاّ أهل التبعات فإن الله عدل يأخذ للضعيف من القوي
Artinya: ...kecuali mereka yang berbuat zalim, karena Allah akan mengambil hak bagi orang lemah dari yang kuat.
Ketika malam tiba, sekelompok orang tengah asyik bermunajat dengan Tuhan mereka dan memohonkan ampunan bagi para pendosa. Pada saat Nabi SAWW sampai di antara mereka, beliau bersabda kepada Bilal, “Wahai Bilal perintahkan semuanya untuk diam sejenak!”. Setelah semuanya diam, beliau bersabda,
إنّ ربكم تطوّل عليكم في هذا اليوم فغفر لمحسنكم و شفّع محسنكم في مسيئكم فأفيضوا مغفورا لكم
Artinya: Sesungguhnya pada hari ini Tuhan melihat kepada kalian dengan pandangan rahmat-Nya. Dia telah mengampuni mereka yang melakukan kebajikan dari kalian dan menjadikannya sebagai pemberi syafaat bagi siapa saja yang telah melakukan dosa di antara kalian. Kini, pergilah dalam keadaan dosa kalian telah diampuni oleh-Nya. Dan beliau SAWW memberikan jaminan keridhaannya untuk para pelaku maksiat.[37]
20. Imam Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. ketika menjelaskan keutamaan Al Quran berkata,
إنه ما توجّه العباد إلى الله تعالى بمثله , واعلموا أنه شافع مشفّع وقائل مصدّق , و أنه من شفع له القرآن يوم القيامة شفّع فيه
Artinya: Tidak ada sesuatu pun yang dapat mengalihkan perhatian seorang hamba kepada Allah SWT lebih dari Al Quran. Ketahuilah bahwa ia adalah pemberi syafaat dan pembicara yang benar. Jika seseorang diberi syafaat oleh Al Quran, maka Allah SWT pasti menerima syafaat tersebut.[38]

Syafaat Menurut Ulama Islam

Hampir seluruh ulama Islam bersepakat bahwa syafaat memang ada di hari kiamat dan akan diberikan kepada kaum mukminin. Hanya saja, sebagian dari mereka berselisih pendapat mengenai seberapa luas makna syafaat ini. Mayoritas ulama dari berbagai mazhab dan aliran dalam Islam berpendapat bahwa syafaat akan berguna untuk menghindarkan seseorang dari bahaya dan siksa neraka.
Apa yang telah kami sebutkan di atas adalah pernyataan beberapa ulama terkenal dari kalangan Syi’ah Imamiyyah mengenai syafaat. Berikut ini kami nukilkan pernyataan dari beberapa ulama besar mazhab-mazhab Islam lainnya.
1. Abu Mansur Al-Maturidi Al-Samarqandi (wafat tahun 333 H) saat menafsirkan ayat ولا يقبل منها شفاعة “Syafaat mereka tidak akan diterima”[46] dan ayat ولا يشفعون إلاّ لمن ارتضى  “Mereka tidak akan bisa memberikan syafaat kecuali kepada orang yang telah diridhai” [47] mengatakan,
“Ayat pertama meskipun menafikan syafaat, akan tetapi kita meyakini adanya syafaat yang diterima dalam Islam yaitu syafaat yang dimaksudkan oleh ayat ini.” [48] (Yang beliau maksudkan dengan ayat ini adalah ayat ke-28 dari surat Al-Anbiya’.)
2. Abu Hafsh Al-Nasafi (wafat tahun 538 H) dalam kitabnya yang dikenal dengan Al-‘Aqaid Al-Nasafiyyah mengatakan,
“Syafaat adalah fakta yang tidak dapat diragukan lagi dan merupakan hak yang dimiliki oleh para rasul dan orang-orang saleh sesuai dengan apa yang disebutkan dalam banyak hadis.” [49]
3. Nashiruddin Ahmad bin Muhammad bin Al-Munir Al-Iskandari Al-Maliki dalam kitab Al-Intishaf menulis,
 “Mereka yang mengingkari syafaat sangat layak untuk tidak menerimanya di hari kiamat nanti. Sedangkan yang percaya dan meyakininya, yaitu kelompok Ahlus-Sunnah wal Jama’ah, mereka adalah orang-orang yang selalu berharap akan rahmat Allah. Mereka percaya bahwa syafaat bisa diberikan kepada orang-orang mukmin yang telah melakukan dosa, dan syafaat ini adalah hak Nabi Muhammad SAWW yang disimpan untuk mereka…” [50]
4. Qadhi ‘Iyadh bin Musa (wafat tahun 544 H) mengatakan,
“Ahlus-Sunnah berpendapat bahwa masalah syafaat secara akal bisa diterima dan kebenarannya didukung oleh banyak ayat dan riwayat. Banyak sekali hadis, yang jumlahnya telah sampai ke batas hadis mutawatir, menyebutkan bahwa syafaat bakal diterima oleh kaum mukminin yang berlumuran dosa. Salaf Shalih (mereka yang hidup di awal Islam) dan ulama-ulama Ahlus Sunnah setelah mereka bersepakat akan kebenaran hal ini….”[51]
Masih banyak lagi ulama-ulama Islam dari kalangan Ahlus-Sunnah dan Syi’ah yang menekankan akan kebenaran syafaat di hari kiamat, yang tentunya tidak dapat kami nukilkan semuanya di sini.
Dengan melihat ayat-ayat Al Quran Al-Karim, hadis-hadis Nabi Muhammad SAWW dan para Imam Ahlul Bait a.s., juga pernyataan-pernyataan para ulama di atas, dapat kita simpulkan bahwa masalah syafaat termasuk dari serangkaian permasalahan yang telah diterima dan diyakini oleh mayoritas kaum muslimin dari berbagai mazhab yang berbeda. Meski demikian, tidak dapat kita pungkiri adanya perselisihan di kalangan para ulama mengenai makna syafaat.
Berbeda dengan pendapat para ulama di atas, kelompok Mu’tazilah menolak konsep syafaat. Abul Hasan Al-Khayyath, salah seorang tokoh kelompok ini, saat menafsirkan ayat berikut ini,
أفمن حقّ عليه كلمة العذاب أفأنت تنقذ من في النار ...
Artinya: Apakah (engkau hendak merubah nasib) orang yang telah pasti akan disiksa? Apakah engkau akan menyelamatkan orang yang berada di dalam neraka?[52]
mengatakan,
“Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa Rasulullah SAWW tidak mungkin dapat menyelamatkan orang yang sudah pasti masuk ke dalam api neraka….”
Syeikh Mufid dalam menjawab pernyataan tersebut mengatakan,
 “Semua orang yang menerima konsep syafaat tidak pernah mengklaim bahwa Rasulullah SAWW dapat menyelamatkan orang yang berada di neraka. Mereka hanya mengatakan bahwa Allahlah yang menyelamatkan orang tersebut dari siksaan-Nya sebagai penghormatan atas Nabi SAWW dan keluarganya yang suci (yang memberinya syafaat). Di sisi lain, para mufassir (ahli tafsir Al Quran) berpendapat bahwa yang dimaksud oleh ayat ini dengan “mereka yang pasti masuk neraka” adalah kaum kafir, dan dalam pembahasan-pembahasan yang lalu telah dijelaskan bahwa Nabi SAWW tidak akan memberikan syafaatnya kepada mereka.” [53]